Muslimah dan Kesehatan

Di sekolah anak-anak suka ada tukang kue cubit yang juga jualan kue sarang laba-laba. Dengan adonan yang sama, bisa bikin dua macam jajanan. Kalau kue cubit kan adonannya dimasukkan ke cetakan yang bentuknya macam-macam. Kalau sarang laba-laba bikinnya cuma diputer-puter aja di atas cetakan tersebut (di permukaannya doang, ga sampe masuk lubang cetakan) sehingga membentuk “sarang”. 

Berhubung ga punya cetakan kue cubit, aku bikin sarang laba-labanya pake teflon biasa aja. Adonannya dimasukkan ke plastik es trus digunting ujungnya. Adonannya juga pake adonan pancake yang udah sering kubikin buat anak-anak. Aku pernah baca ada juga makanan yang mirip sama si sarang laba-laba ini, namanya roti jala. Mungkin beda di adonan aja, tapi bentuknya mirip.

Adonan pancake yang biasa kupake seperti ini :

  • 150 gram terigu
  • 2 butir telur ayam
  • 3 sendok makan gula pasir
  • Seujung sendok teh garam
  • 60 mL santan (aku pake santan kara kemasan paling kecil)
  • 1 sendok makan margarin, lelehkan
  • Air secukupnya

Cara membuat :

  • Kocok telur, gula pasir, dan garam.
  • Masukkan terigu, santan, dan margarin. Aduk sampai rata sambil mencampurkan air.
  • Jika ingin dijadikan pancake, tuang sesendok demi sesendok di atas teflon. Jika sudah berlubang-lubang bisa dibalik dan ditunggu hingga matang.
  • Jika ingin dijadikan kue cubit bisa dimasukkan ke cetakan kue cubit.
  • Jika ingin bikin sarang laba-laba, adonannya dimasukkan ke dalam plastik es kemudian digunting ujungnya trus dituang ke atas teflon sambil diputar-putar hingga membentuk sarang laba-laba atau bentuk jaring/jala.

* jika ingin adonannya berwarna, bisa ditambahkan pewarna makanan. Biasanya penjual kue cubit sedia warna original, coklat, pink, dan ijo.

Selamat mencoba.. 

 

Pengen bikin pizza “mulur” pake keju mozzarella tapi kok harganya lebih mihil ya? Jangan khawatir, sekarang bisa bikin keju mozzarella sendiri dengan 4 jenis bahan aja. Simak yuk..

Bahan :

  • 1 kotak keju cheddar (aku pake merk MEG 180 gram) diparut
  • 200 cc susu UHT putih (aku pake merk ultra)
  • 2 sendok makan tepung maizena dilarutkan dengan 100cc air
  • Setengah sachet susu kental manis putih

Cara membuat :

  • Masak parutan keju dan susu UHT dengan api sangat kecil.
  • Jika keju parut sudah keliatan melebur dengan susu, masukkan larutan maizena dan susu kental manis, aduk-aduk.
  • Jika sudah matang, masukkan ke dalam wadah (aku pake wadah kecil supaya nanti bentuknya mirip keju blok).
  • Tunggu sampai dingin di suhu ruangan baru kemudian masukkan ke dalam freezer.
  • Ambil keju mozzarella KW seperlunya ketika dibutuhkan.

Selamat mencoba..

Meski bawa uang saku untuk jajan di kantin, tapi biasanya anak-anak tetap bawa bekal dari rumah. Bekal yang dibawa sangat bervariatif tergantung apa yang ada di rumah. Pekan kemarin anak yang nomor dua dapat tugas membawa makanan sehat untuk makan bersama sekaligus pelajaran adab makan. Berhubung harus ada nasi, sayur, lauk, dan susu, jadi kali ini bikin menu yang lengkap:

  • Nasi tabur bawang goreng
  • Ca sayur plus bakso
  • Fillet ikan tuna goreng crispy (ditepungin)
  • Buah naga
  • Nutrijel rasa anggur
  • Susu kotak rasa coklat

Alhamdulillah bikin 3 wadah sekaligus untuk kakak dan adiknya juga. Maklum, satu dibikinin, yang lain juga minta..

Entah apa namanya yang bener, yang jelas bentuk yang diinginkan adalah semangka tapi dagingnya berisi aneka buah dan teman-temannya. Cara bikinnya bisa diliat di kolase gambar di atas. Yaitu buah semangka dibelah dua trus dagingnya diambil sampe tinggal kulit semangka berbentuk mangkuk. Trus daging semangka tadi dipotong kecil-kecil dimasukkan lagi ke dalam “mangkuk” kulit semangka bersama dengan bahan isian lain (aku pake buah naga, agar, pepaya). Lalu tuang nutrijel rasa apa aja ke dalamnya. Harapannya sih jadi semcam efek kaca gitu. Nanti ketika semangka dipotong bentuknya jadi unik. 

Berhubung namanya nyoba ya ga mesti langsung sukses. Kali ini nutrijelnya kurang kenyal (sebaiknya airnya dikurangin pas masak) trus kayaknya jg karena efek semangka yang sangat berair. Jadi mangkuk kulit semangkanya itu bisa berair gitu, otomatis bikin nutrijelnya jadi kurang kenyal karena ketambahan air. 
Trus tips lain, kayaknya hindari isian buah naga deh, soalnya warnanya pekat banget jadi efek kaca bening dari jelly yang diinginkan jadi kurang maksimal. Tentu saja karena warnanya jadi merah gelap. Tapi apapun itu, alhamdulillah anak2 doyan dan habis.

Selamat mencoba..

Punya oma yang pinter masak bikin cucu-cucunya sering request masakan kayak yang dibikin oma. Dengan kursus kilat sekali liat proses masaknya oma, akhirnya bisa recook resep setup Solo yang legendaris ini. Alhamdulillah habis dalam sekejap, padahal sempet kepikiran masaknya kebanyakan. Anak-anak nambah terus sampe lima kali, alhamdulillah..

Ini resepnya

Bahan :

  • Macaroni secukupnya (sekitar 250gram)
  • 3 butir telur ayam, dikocok
  • Setengah kilo ayam (fillet atau suwir juga boleh)
  • Santan kurang lebih 700ml

Bumbu :

  • 2 butir bawang bombay ukuran kecil, diiris tipis
  • 1 butir bawang putih dicincang kasar
  • Merica bubuk secukupnya
  • Setengah butir biji pala digeprek
  • Garam secukupnya
  • Margarin untuk menumis

Cara Memasak :

  • Tumis bumbu sampai layu
  • Masukkan kocokan telur
  • Kemudian masukkan ayam dan makaroni, aduk-aduk
  • Terakhir masukkan santan dan tunggu sampai matang
  • Sajikan hangat dengan taburan bawang goreng

Selamat mencoba..

Sudah lama anak-anak pengen punya hewan peliharaan, tapi aku dan suami gak mengizinkan karena khawatir tidak bisa bener-bener mengurusnya. Aku juga berfikir untuk menyayangi binatang tidak harus dengan memeliharanya di dalam rumah. Maka untuk menyenangkan anak2, aku memperbolehkan anak2 rutin ngasih makan kucing liar yang berkeliaran di kompleks tempat tinggal kami.

Salah satu kucing yang menjadi kesayangan anak2 adalah seekor kucing kurus yang matanya ada bagian yang kurang sempurna. Anak2 memberi nama kucing ini “Ben”. Entah dapat inspirasi dari mana, pokoknya tiba2 aja anak2 udah manggil dengan sebutan Ben. Tiap kali anak2 keluar rumah mau berangkat sekolah, si Ben langsung mendekat. Begitu juga ketika pulang sekolah, mungkin karena Si Ben tau bakal dikasi tulang. Bahkan ketika anak2 manggil namanya, Si Ben langsung lari sekencang-kencangnya seakan tau kalo itu namanya.

Pas makan bareng, biasanya anak2 akan ngobrolin tentang Ben. Abinya memberi beberapa nasihat tentang menyayangi binatang. Larangan jual beli kucing, tidak boleh menyia-nyiakan binatang peliharaan, sampai pada hadits seorang wanita yang diadzab karena meninggalkan binatang peliharaan di dalam kandang sampai mati. Alhamdulillah anak2 sudah tau beratnya tanggungjawab ketika kita memelihara binatang, maka lebih baik sekedar memberi makan dan menyayangi Ben tanpa harus memeliharanya di dalam rumah. Biarkan Ben bermain dan bebas di luar sana. Have a nice day Ben..

Dari dulu aku lebih suka bubur ketan hitam dibanding kacang hijau, jadi kalau beli di tukang burjo keliling seringnya pesan ketan hitam saja tanpa burjonya. Anak-anakku ternyata ketularan suka sama si hitam manis ini. Kalau biasanya beli, pagi ini pengen bikin sendiri. 

Ini resep bubur ketan hitamnya :

Bahan :

  • 0,5 liter beras ketan hitam 
  • 1 ons gula jawa 
  • 4 sendok teh gula pasir
  • 1,5 liter air
  • 1 helai daun pandan

Cara membuat :

  • Cuci beras ketan hitam
  • Rendam beras ketan hitam semalaman
  • Masukkan seluruh bahan lalu rebus hingga air habis (mengental) 
  • Aduk-aduk supaya tidak menempel di dasar panci
  • Lengkapi/siram dengan kuat santan

Selamat mencoba.. 

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hafidzahullah

Pertanyaan:
Saya memiliki seorang bayi dengan usia 5 minggu. Saya dan suami berniat membiasakan anak menyusu dengan susu formula. Apakah hal ini diperbolehkan menurut Islam? Apakah seorang ibu berdosa jika tidak menyusui anaknya langsung dari payudara tanpa sesuatu sebab?

Jawaban:
Pertama,
Seorang ayah wajib memberikan makan kepada anaknya, berdasarkan firman Allah ta’ala,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan wajib bagi ayah untuk menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233)

Jika anak masih pada tahap menyusu, maka wajib bagi ayah untuk memberikan nafkah persusuannnya. Yaitu dengan menyerahkannya kepada wanita yang dapat menyusuinya. Kebiasaan ini tersebar di jaman awal.

Seorang ibu tidak wajib menyusui sendiri anaknya kecuali bila si anak tidak mau menyusu dari perempuan lain (artinya: si anak hanya mau menyusu dari ibunya saja, tidak mau menyusu dari ibu susuan, pen.). Bila keadaannya seperti itu, si ibu wajib menyusui anak; dan berdosa jika membiarkannya.

Dalam Syarah Muntahal Iradat, 3:243, beliau berkata, “Seorang wanita merdeka wajib menyusui anaknya bila dikhawatirkan adanya bahaya, karena si anak tidak mau menyusu dari payudara lain (maksudnya: dari ibu susuan, pen.), atau alasan lain yang semisal.

Tujuannya, untuk menghindarkan anak dari kematian, sebagaimana bila tidak ada perempuan lain yang bisa menyusuinya.

Si ibu (yang dicerai suaminya) berhak mendapat upah yang semisal dengan ibu susuan lain. Namun bila tidak dikhawatirkan adanya bahaya, maka si ibu tidak boleh dipaksa menyusui. berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى

Jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan anak itu untuknya.” (QS. At-Thalaq: 6)

Begitu pula, jika seorang suami menyuruh istri untuk menyusui anaknya, maka hal tersebut wajib bagi istri menurut pendapat yang kuat.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,

“Yang nampak dari perkataan penulis bahwa menyusui tidak wajib bagi istri, baik ketika ia masih berada dalam ikatan pernikahan suaminya atau sudah bercerai darinya.

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata,’Akan tetapi, jika istri berada dalam ikatan pernikahan suaminya, maka wajib bagi istri menyusui anaknya.’

Pendapat beliau ini lebih dekat dengan kebenaran. Kecuali, jika ibu dan ayah sama-sama ridha jika si anak disusukan ke perempuan lain, maka tidak mengapa.

Tetapi, jika suami mengatakan kepada istri,’Tidak boleh ada yang menyusuinya kecuali kamu’, maka wajib bagi istri menyusuinya.

Walaupun kita mendapati seseorang yang bisa menyusuinya atau kita punya susu formula yang bisa dijadikan sebagai sumber makanan bagi bayi, sementara suami mengatakan, ‘Engkau harus menyusuinya,’ maka tetap wajib bagi istri menyusui karena suami yang bertanggung jawab atas nafkah, dan nafkah ini sebagaimana yang sudah kami sebutkan, yaitu nafkah karena hubungan pernikahan dan nafkah persusuan.

Seandainya si suami mengatakan, “Aku lebih suka jika anakku menyusu dengan susu formula karena akan menghindarkannya dari berbagai penyakit dan alasan lain yang semisal.” Sementara si istri menjawab, ” Tetapi aku akan tetap menyusuinya (ASI),” Dalam kasus seperti ini kebenaran ada di pihak si istri dan tidak boleh bagi suami untuk melarangnya.’”

Selesai kutipan dari ‘Asy Syarhu Al Mumti’ (517/13)

Berdasarkan hal ini, diperbolehkan memberi susu kepada anak dengan susu formula jika suami meridhai hal tersebut, tidak ada dosa bagi si ibu ketika itu.

Jika anak tidak mau menerima susu formula dan tidak ditemukan perempuan lain yang menyusuinya, maka saat itu wajib bagi sang ibu untuk menyusuinya untuk menjaga si anak dari kematian.

Kedua:
Hendaknya kedua orang tua bersemangat untuk menyusukan anaknya dengan susu yang alami (ASI) dari ibunya atau wanita lain.

Mengingat dalam persusuan ini terdapat manfaat yang banyak yang tidak didapati dalam susu formula, diantaranya:

  1. ASI, susu steril siap pakai yang tidak mengandung kuman.
  2. ASI, tidak ada susu lain yang menandinginya seperti susu olahan dari sapi, kambing, atau unta. ASI diciptakan untuk memenuhi kebutuhan bayi hari demi hari sejak kelahirannya sampai tahun penyapihan (umur 2 tahun).
  3. ASI mengandung jumlah protein yg cukup dan kadar gula yang cocok bagi anak. Sedangkan kandungan protein yang ada pada susu sapi, kambing dan kerbau itu sulit dicerna di lambung anak kecil karena protein tsb cocoknya untuk anak-anak hewan tsb.
  4. Pertumbuhan anak-anak yang meminum ASI lebih cepat dan sempurna daripada pertumbuhan anak-anak yang diberi susu formula.
  5. Adanya hubungan batin atau emosional antara ibu dan anaknya.
  6. ASI mengandung berbagai macam unsur penting sebagai sumber makanan bagi bayi, sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dibutuhkan tubuhnya. Dan unsur ini sangat cocok dengan kemampuannya dalam mencerna dan menyerap makanan. Komponen nutrisi ASI yang dibutuhkan bayi tidaklah sama, berubah hari demi hari sesuai kebutuhan bayi.
  7. ASI tersimpan pada suhu yang tepat, secara otomatis merespon kebutuhan bayi dan bisa diperoleh kapanpun.
    Menyusui langsung dari payudara merupakan salah satu cara alami untuk mencegah kehamilan pada ibu. Sehingga sang ibu bisa terbebas dari komplikasi yang timbul dari penggunakan pil KB, spiral atau suntik.

Selesai dikutip dari kitab “Taudhihu al-Ahkam” (5/107).
Allahu’alam.

***
Sumber:https://islamqa.info/ar/142055
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
Artikel Wanitasalihah.com

Read more http://wanitasalihah.com/ibu-berilkan-asi-untuk-anakmu/

Seperti biasa, anak yang nomor 3 selalu minta umminya recook menu cooking class di sekolahnya. Alhamdulillah menunya ga pernah susah (ya iya lah, namanya juga masih TK) 

Biasanya anakku akan cerita dengan semangat bahan-bahannya apa saja, cara bikinnya bagaimana, rasanya kayak apa, ditambah embel-embel “gampang kok mi, nanti ummi kuajarin biar bisa”.

Baiklah..

Ini bahannya :

  • Agar (aku pake warna hijau), diparut
  • Buah-buahan (aku pake pepaya dan pisang),  dipotong kecil-kecil
  • Susu kental manis (boleh putih atau coklat) 
  • Es batu 
  • Sirup (aku skip karena sudah manis dari susu kental manisnya) 

Cara Membuat :

Masukkan bahan-bahan lalu tambahkan air. Gampang banget kan? 

Sebenarnya yang bikin disebut “es sarang burung” karena parutan agar yang bentuknya panjang-panjang mirip bakmi trus kalo ditata di gelas jadi mirip sarang burung. 

Selamat mencoba bersama putra-putri tercinta .. 

Berikut ini adalah sebuah tulisan dari Ustadz Aris Munandar, M.PI (ustadzaris.com)

Menggunakan obat pencegah haid sementara waktu karena suatu keperluan semisal saat umroh, haji atau ingin puasa Ramadhan secara utuh pada dasarnya diperbolehkan menimbang bahwa secara umum berobat itu suatu hal yang diperbolehkan dengan syarat komsumsi tersebut tidak menimbulkan efek negatif dari sisi kesehatan. Jika ada dampak negatifnya komsumsi obat semisal itu tidaklah diperbolehkan mengingat QS al-Baqarah: 195 dan QS an-Nisa’: 29. Meskipun komsumsi obat pencegah haid diperbolehkan namun yang terbaik adalah tidak mengkomsumsinya kecuali ada kebutuhan mendesak karena kondisi alami itulah yang paling cocok bagi badan (Ibnu Utsaimin dalam Risalah fi ad-Dima’ ath-Thabiiyyah li an-Nisa’).

Status wanita yang mengkomsumsi obat pencegah haid itu ada dua rincian.

Pertama, obat tersebut berhasil mencegah keluarnya darah haid sebelum darah haid keluar. Dalam kondisi ini, wanita tersebut tergolong suci karena memang tidak ada darah haid yang keluar dan pada dasarnya kita pertahankan kondisi awal yaitu suci. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, fatwa Lajnah Daimah serta fatwa Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.

Kedua, obat pencegah haid dikomsumsi setelah darah haid keluar sehingga darah haid berhenti selama beberapa waktu dan darah haid akan kembali keluar setelah masa pengaruh dari obat tersebut berakhir.

Rincian kedua ini terbagi menjadi dua kategori.

  • Darah berhasil dihentikan selama kurang lebih delapan atau sepuluh hari. Thowaf dalam kondisi semisal itu sah karena thowaf dilakukan dalam kondisi suci.
  • Darah berhasil dihentikan namun cuma kurang lebih satu hari lalu keluar lagi. Dalam kondisi semisal ini ulama bersilang pendapat mengenai status wanita tersebut, suci ataukah teranggap haid.

Ada ulama semisal Ibnu Farhun al Maliki yang menegaskan bahwa wanita tersebut tergolong haid. Ada dua alasan yang mendasari ulama yang menilai haid.

Alasan pertama, kriteria minimal hari suci dari haid. Setelah keluarnya darah haid seorang wanita itu teranggap haid. Status haid itu tidak hilang kecuali jika darah haid itu berhenti secara permanen minimal selama masuk dalam kriteria minimal hari suci dari haid. Namun terkait permasalahan minimal hari suci dari haid pendapat yang paling kuat adalah tidak ada batas bakunya. Inilah pendapat Ishaq bin Ruhawaih, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyyah, Fatwa Lajnah Daimah, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.

Diantara dalil pendukung pendapat ini adalah atsar dari shahabat Ibnu Abbas.
قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَقَدْ رَوَى ابْنُ سِيرِينَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِى الْمُسْتَحَاضَةِ قَالَ إِذَا رَأَتِ الدَّمَ الْبَحْرَانِىَّ فَلاَ تُصَلِّى وَإِذَا رَأَتِ الطُّهْرَ وَلَوْ سَاعَةً فَلْتَغْتَسِلْ وَتُصَلِّى.
Abu Dawud mengatakan bahwa Ibnu Sirin meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai wanita yang mengalami istihadhah. Ibnu Abbas mengatakan, “Jika wanita tersebut melihat darah maka dia tidak boleh mengerjakan shalat. Namun jika dia melihat bahwa dirinya suci meski hanya sesaat saja maka dia suci. Oleh karena itu dia berkewajiban untuk mandi dan mengerjakan shalat sebagaimana biasanya” (Sunan Abu Daud).

Berdasarkan pertimbangan di atas maka pendapat yang terkuat jika seorang wanita mengkomsumsi obat penghenti haid setelah keluarnya darah haid hendaknya dia pastikan terlebih dahulu. Jika memang dia benar-benar dalam kondisi suci dari darah haid karena tanda-tanda suci terdapat pada dirinya maka dia dalam kondisi suci sehingga boleh baginya untuk thawaf. Namun jika setelah dicermati ternyata dia belum dalam kondisi yang benar-benar suci maka yang terjadi pada dirinya hanyalah berhentinya darah haid sementara waktu, bukan suci sehingga dia tetap saja tidak boleh thawaf mengelilingi Ka’bah.

Alasan kedua, masalah sehari lihat darah sehari suci. Jika seorang wanita darah haidnya keluar secara tidak teratur, sehari keluar sehari tidak keluar maka apakah di hari tidak ada darah haid wanita tersebut teranggap haid ataukah teranggap suci adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah saat darah haid tidak keluar tidaklah teranggap suci namun tetap teranggap haid. Ini adalah mazhab Hanafi, pendapat yang terkuat dalam mazhab Syafii dan pendapat yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Mumti’.

Alasan yang menguatkan pendapat ini adalah

1) dengan sepakat ulama dalam haid tidaklah disyaratkan darah haid keluar secara terus menerus di masa haid

2) telah menjadi kebiasan wanita dalam haid bahwa darah haid itu keluar secara terus menerus selama beberapa waktu lamanya lantas berhenti selama beberapa waktu lamanya, tidaklah termasuk kebiasaan haid para wanita darah itu keluar secara terus menerus

3) andai kita katakan bahwa hari berhentinya darah haid itu teranggap suci konsekuensinya seorang wanita itu cukup menjalani masa iddah dalam satu bulan karena darah haid itu akan berhenti selama beberapa kali. Sehingga jika demikian di akhir masa haid masa iddah teranggap sudah selesai.

Berdasarkan uraian di atas maka berhentinya darah haid selama sementara waktu itu dianggap masih dalam kondisi haid, bukan kondisi suci dari haid. Namun jika dalam kondisi ini bisa dipastikan bahwa itu adalah kondisi suci karena terdapat indikator menunjukkan hal tersebut maka wanita yang mengalaminya adalah wanita yang suci dari haid karena mempertimbangkan indikator suci dari haid adalah bagian dari kaedah pokok syariat. Dalam kondisi ini wanita tersebut teranggap benar-benar suci meski waktu sucinya hanya sebentar saja. Sehingga dalam kondisi ini wanita tersebut boleh melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah.

Walhasil, berhentinya darah haid yang sebelumnya telah keluar disebabkan mengkomsumsi obat penghenti haid status hukumnya perlu dirinci dengan mempertimbangkan ada tidaknya indikator suci dari haid. Jika terdapat indikator suci maka dianggap suci meski masa berhentinya darah haid hanya sebentar. Jika tidak terdapat indikator suci maka tidak teranggap suci selama darah haid itu berhenti di saat yang secara normal memungkinkan untuk keluarnya darah haid.

Oleh karena itu disarankan bagi wanita yang mengalami ragu-ragu atau wanita yang khawatir akan keluarnya darah haid saat mengerjakan kegiatan ibadah haji atau umroh agar melakukan tindakan hati-hati dengan mengkomsumsi obat pencegah haid sebelum darah haid keluar. Komsumsi obat tersebut jangan ditunda sampai keluarnya darah haid mengingat adanya berbagai pertimbangan yang njlimet yang harus diperhatikan pada saat semisal itu. Pertimbangan-pertimbangan tersebut boleh jadi tidak dia ketahui. Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan thawaf padahal sebenarnya dia dalam kondisi haid karena mengira dia telah berada dalam kondisi suci.

Buku Karyaku yang Pertama

Panduan Kesehatan Wanita
Flower_book

Wahai para ibu, berikanlah hak asASI bayimu!! 0 s.d 6 bln = ASI Eksklusif, setelah itu ASI + MPASI hingga 2 tahun

Ikon ASI

Daftar Artikel

RSS Muslimah.or.id

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.